Regulating Interfaith Marriage in Indonesia: A Religious Legal Pluralism Approach to Legal Certainty and Constitutional Justice

Authors

  • Fera Sari Universitas Sriwijaya, Sumatera Selatan, Indonesia.
  • Firman Muntaqo Universitas Sriwijaya, Sumatera Selatan, Indonesia.
  • K.N. Sofyan Hasanah Universitas Sriwijaya, Sumatera Selatan, Indonesia.

DOI:

https://doi.org/10.38035/gijlss.v4i4.1101

Keywords:

Interfaith Marriage, Legal Pluralism, Religious Law, Marriage Regulation, Legal Certainty

Abstract

Interfaith marriage remains one of the most controversial issues in Indonesian marriage law due to the unresolved interaction between state law, religious law, and constitutional guarantees of religious freedom. Although various statutes, judicial decisions, and administrative regulations govern marriage, they provide inconsistent legal standards regarding the validity and registration of interfaith marriages, creating a persistent legal gap and legal uncertainty. This study aims to examine the regulation of interfaith marriage through the perspective of religious legal pluralism and to formulate a regulatory model capable of reconciling Indonesia's plural legal order. Using a normative-empirical legal research design, this study analyses legislation, judicial decisions, religious doctrines, and qualitative interviews with six religious leaders representing Islam, Catholicism, Protestantism, Buddhism, Hinduism, and Confucianism. The findings reveal divergent religious positions, with Islam, Protestantism, and Hinduism generally prohibiting interfaith marriage, Catholicism allowing limited dispensations, and Buddhism and Confucianism adopting more accommodative approaches. Based on these findings, the study proposes a religious legal pluralism model that integrates the authority of religious institutions with state administrative procedures, thereby providing a more coherent mechanism for determining the validity and civil registration of interfaith marriages while balancing legal certainty, constitutional rights, and respect for religious diversity. The empirical findings, however, are limited by the small number of informants and the single-regional scope of the interviews, suggesting the need for broader comparative research. This article contributes to the reform of Indonesian marriage law by offering a constitutionally grounded and institutionally coherent framework for regulating interfaith marriage within Indonesia's multicultural legal system.

References

Ana, P. (Ed.). (1983). Peranan agama Katolik dalam meningkatkan program kependudukan dan keluarga berencana melalui nasehat perkawinan. Departemen Agama RI dan BKKBN.

Antari, P. E. D., & Adnyana, I. K. B. S. (2024). Legalitas pencatatan perkawinan beda agama pasca surat edaran Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2023. Fundamental: Jurnal Ilmiah Hukum, 13(1), 1–20.

Arsal. (2018). Fenomena perkawinan beda agama di Indonesia ditinjau dari perspektif Al Quran dan Hadits. Islam Realitas: Journal of Islamic & Social Studies, 4(2), 209–223.

Ashsubli, M. (2015). Undang-Undang Perkawinan dalam pluralitas hukum agama (Judicial review pasal perkawinan beda agama). Jurnal Cita Hukum, 3(2), 285–302.

Asmin. (1986). Status perkawinan antar agama ditinjau dari Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974. Dian Rakyat.

Budiarti. (2018). Analisis yuridis perkawinan beda agama dengan pendekatan Maqashid Al-Syari’ah dalam konteks negara hukum Pancasila. Justicia Islamica, 15(1), 1–18.

Cantonia, S., & Majid, I. A. (2021). Tinjauan yuridis terhadap perkawinan beda agama di Indonesia dalam perspektif Undang-Undang Perkawinan dan Hak Asasi Manusia. Rewang Rencang: Jurnal Hukum Lex Generalis, 2(6), 507–522.

Dauda, S. M., Rapik, M., & Monita, Y. (2022). Dinamika status hukum perkawinan beda agama dalam perspektif fikih Indonesia. Undang: Jurnal Hukum, 5(2), 357–391. https://doi.org/10.22437/ujh.5.2.357-391

Detiknews. (2023, September 29). PN Jakut izinkan nikah beda agama pasca-SEMA, ini sikap MA. https://news.detik.com/berita/d-6902148/pn-jakut-izinkan-nikah-beda-agama-pasca-sema-ini-sikap-ma

Fenecia, E., Agustini, S., & Putri, W. (2024). Kepastian hukum SEMA Nomor 2 Tahun 2023 terhadap pencatatan perkawinan antar-agama dalam bingkai kebhinekaan Indonesia. PAMALI: Pattimura Magister Law Review, 4(2), 127–144.

Gelgel, I. P., & Hendriani, N. L. G. (2020). Hukum perkawinan dan waris Hindu. UNHI Press.

Ginting, Y. P. (2021). Perspektif pluralisme hukum pasca pembentukan Undang-Undang Cipta Kerja. Majalah Hukum Nasional, 51(1), 63–82. https://doi.org/10.33331/mhn.v51i1.135

Hedi, F., Anshori, A. G., & Harun. (2017). Legal policy of interfaith marriage in Indonesia. Hasanuddin Law Review, 3(3), 260–272.

Irianto, S. (2003). Sejarah dan perkembangan pemikiran pluralisme hukum dan konsekuensi metodologisnya. Jurnal Hukum Dan Pembangunan, 33(4), 489–505.

Jati, I. W. (2022). Pengaturan perkawinan beda agama di Indonesia. ’Ainul Haq: Jurnal Hukum Keluarga Islam, 2, 45–62.

Kompas.com. (2023, July 23). Soal hakim kabulkan nikah beda agama setelah ada SEMA, MA: Kita lihat sikapnya. https://nasional.kompas.com/read/2023/07/21/14440721/soal-hakim-kabulkan-nikah-beda-agama-setelah-ada-sema-ma-kita-lihat-sikapnya

Masyitoh, N. D. (2016). Dialektika pluralisme hukum: Upaya penyelesaian masalah ancaman keberagaman dan keberagamaan di Indonesia. Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan, 24(2), 367–390.

Menski, W. (2006). Comparative law in a global context: The legal systems of Asia and Africa. Cambridge University Press.

Mukminto, E., & Marwan, A. (2019). Pluralisme hukum progresif: Memberi ruang keadilan bagi yang liyan. Masalah-Masalah Hukum, 48(1), 17–24.

Mukti, K. W. (Ed.). (1983). Nasehat perkawinan agama Budha dan pendidikan kependudukan-keluarga berencana dalam agama Budha. Departemen Agama RI dan BKKBN.

Mursalin, A. (2023). Legalitas perkawinan beda agama: Mengungkap disparitas putusan pengadilan di Indonesia. Undang: Jurnal Hukum, 6(1), 113–150. https://doi.org/10.22437/ujh.6.1.113-150

Pratiwia, V. D., Sineru, W., & Sumarwan, E. (2023). Pernikahan beda agama dalam pandangan agama Budha. Jurnal Penelitian Agama, 24(2), 191–204. https://doi.org/10.24090/jpa.v24i2.2023.pp191-204

Prawirohamidjojo, R. S. (2012). Pluralisme dalam perundang-undangan perkawinan di Indonesia. Airlangga University Press.

Safitri, M. A. (2012). Negara dan pluralisme hukum: Kebijakan pluralisme di Indonesia pada masa kolonial dan masa kini. In Beragam jalur menuju keadilan: Pluralisme hukum dan hak-hak masyarakat adat di Asia Tenggara. Epistema Institute.

Samita, I. (2011, November 24). Uung Sendana Wakil Ketua Umum MATAKIN: Untuk nikah beda agama, Khonghucu tidak keluarkan surat pemberkatan. Republika. https://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/14/11/24/nfjb11-untuk-nikahbeda-agama-konghucu-tidak-keluarkan-surat-pemberkatan

Somadiyono, S. (2020). Perbandingan sejarah positivisme hukum di Indonesia sebagai penentu politik hukum di masa yang akan datang. Legalitas: Jurnal Hukum, 12(1), 18–30. https://doi.org/10.33087/legalitas.v12i1.191

Suhasti, E., Djazimah, S., & Hartini. (2018). Polemics on interfaith marriage in Indonesia between rules and practices. Al-Jami’ah: Journal of Islamic Studies, 56(2), 367–394.

Tamanaha, B. Z. (1993). The folly of the “social scientific” concept of legal pluralism. Journal of Law and Society, 20(2), 192–217. http://www.jstor.com/stable/1410167

Tihami, H. M. A., & Sahrani, S. (2013). Fikih munakahat Kajian fikih nikah lengkap. Rajawali Pers.

Ubbe, A. (2016). Interaksi antar hukum dan pengaruhnya terhadap penerapan Undang-Undang Perkawinan. Jurnal Penelitian Hukum De Jure, 16(2), 147–162.

Wahyuni, D. S. (2013, August 27). Pluralisme hukum dalam pembangunan hukum Indonesia: Masalah dan tantangan ke depan. Konferensi Asosiasi Filsafat Hukum Nasional (AFH) Ke-3.

Wahyuni, S. (2014). Kontroversi perkawinan beda agama di Indonesia. Ar-Risalah, 14(2), 291–306.

Wahyuni, S. (2016). Nikah beda agama kenapa di luar negeri? Pustaka Alfabet.

Zeinudin, M. (2019). Rekonstruksi hukum perkawinan beda agama di Indonesia berbasis nilai keadilan bermartabat.

Published

2026-10-22

How to Cite

Sari, F., Muntaqo, F., & Hasanah, K. S. (2026). Regulating Interfaith Marriage in Indonesia: A Religious Legal Pluralism Approach to Legal Certainty and Constitutional Justice. Greenation International Journal of Law and Social Sciences, 4(4), 1565–1578. https://doi.org/10.38035/gijlss.v4i4.1101